Pages

Jumat, 26 Agustus 2011

hati-hati mempelajari ilmu hakikat dan makrifat.

ilmu ini memang sekarang tergolong langka, jarang sekali ada seorang guru yang mau mengajarkan ilmu ini kepada khalayak umum. selain juga sedikit orang yang memiliki kelebihan ilmu ini. saking langkanya ilmu ini maka banyak orang mencari dan akhirnya tersesat. semula mengira bahwa ia akan mengajarkan ilmu hakikat makrifat ternyata mengajarkan yang bukan itu dan bahkan mengajarkan kesyirikan. buku buku yang membahas ilmu tersebut memang sudah banyak beredar namun hal itu tidak dapat digunakan untuk pegangan dalam mempelajari ilmu ini. ilmu ini adalah wilayah pengalaman sehingga harus diajarkan oleh seorang guru yang memiliki pengalaman tentang hal tersebut. jadi hati hati lah … mempelajari ilmu ini….cek dan ricek lah untuk memilih guru, kyai, syech..dst, kalau perlu test guru tersebut benar benar sudah makrifat tidak atau hanya sekedar berilmu saja belum mengamalkan. kadang orang terkesan dengan kehebatan atau kesaktian yang dimiliki guru tersebut, dikiranya kesaktian dan kehebatan itu tanda bahwa dia oarag suci. kita malah justru hati hati dengan seorang guru yang sering menceritakan kehebatan kehebatannya, bisa inilah bisa itulah, ketemu sama inilah ketemu sama itulah. guru yang demikian berarti ilmunya ketauhidannya belum sempurna karena masih ada aku , istilahnya belum zero mind. guru yang benar benar sakti adalah guru yang sudah tidak mengunggulkan keakuannya, karena makrifatnya dengan allah. bagaimana Guru tersebut mau mengajarkan ilmu makrifat sedangkan dia sendiri tidak mengamalkan ilmu makrifat yang dimiliki. makrifat bukanlah sekedar ilmu namun suatu perbuatan atau tindakan yaitu suatu kesadaran dengan sebenar benar sadar bahwa tidak ada tuhan selain allah. bila anda betul betul tertarik untuk mempelajari ilmu yang satu ini maka kuatkan dulu syariatnya, yaitu dengan mengakui sepenuhnya bahwa apa yang disampaikan rasulullah dalam qur an dan hadits adalah benar. apa yang benar itulah yang benar dan apa yang salah itu adalah salah, jangan sampai ada hati yang ngganjel terkait dengan syariat yang ada. setelah yakin akan syariat yang dipegang mulai lah berjalan artinya mengamalkan dengan keihlasan.. nanti nya akan ketemu dengan hakikat dan akhirnya akan makrifat. jadi sebenarnya Makrifat bukan ilmu namun suatu hasil amaliah. kalau makrifat di ilmukan jadinya malah membingungkan, bahkan ada yang lebih parah lagi ilmu makrifat diperdebatkan. orang kalau sudah makrifat sama allah dia akan lebih banyak diam, sekali lagi makrifat adalah wilayah spiritual experience bahkan merupakan muara dari peaks experience. wilayah pengalaman tidak untuk didiskusikan tapi untuk di alami bersama. Seorang gurupun tidak mampu untuk memberikan kemampuan ini… hanya saja sang guru tersebut memberikan suatu metode …masalah makrifat atau tidak itu sangat tergantung dari Allah. Allah lah yang akan memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dikehendaki untuk memakrifati Dia. semoga kita diberi kemudahan Allah untuk mengenal NYa… Amin ya rabbal alamin.

Rabu, 13 Juli 2011

1. Hakikat.

Hakikat adalah buah. Selepas kita ada syariat, kemudian kita amalkan syariat itu hingga ia naik ke peringkat tariqat, yakni ia menjadi sebatang pokok yang bercabang dan berdaun, maka kalau cukup syarat-syaratnya maka pokok itu akan menghasilkan buah.

Buah tariqat adalah akhlak dan peningkatan peringkat nafsu atau pencapaian maqam-maqam mahmudah. Boleh jadi ia menghasilkan maqam sabar, maqam redha, maqam tawakkal, maqam tawadhuk, maqam syukur dan berbagai-bagai maqam lagi. Boleh jadi hanya terhasil satu maqam sahaja [sebiji buah sahaja] atau boleh jadi akan terhasil beberapa maqam berbeza dari satu pokok yang sama.

Hakikat juga adalah satu perubahan jiwa atau perubahan peringkat nafsu hasil dari syariat dan tariqat yang dibuat dengan bersungguh-sungguh, istiqamah, faham dan dihayati.
2. Makrifat.

Ini adalah hasil dari hakikat, iaitu hal-hal hakikat yang dapat dirasai secara istiqamah. Ia adalah satu tahap kemajuan rohaniah yang tertinggi hingga dapat benar-benar mengenal Allah dan rahsia-rahsia-Nya. Orang yang sudah sampai ke tahap ini digelar Al Arifbillah.

Kalau kita lihat dengan teliti, tertib dalam amalan ini bermula dari yang lahir dan berakhir dengan yang batin.

Syariat dan tariqat itu terletak dalam kawasan lahir.

Hakikat dan makrifat pula menjangkau ke alam batin iaitu ke dalam hati dan rohani.

Kita juga dapat lihat bahawa peringkat syariat dan tariqat adalah peringkat-peringkat yang agak mudah untuk dicapai kerana ia hanya melibatkan usaha lahir. Tetapi untuk mencapai peringkat hakikat dan makrifat, ia agak lebih sukar dan lebih rumit.

Kesukaran ini ialah kerana pertama, ia memerlukan istiqamah dalam beramal dan kedua kerana ia memerlukan juga amalan batin atau amalan hati atau apa yang dinamakan hikmah. Amalan yang berhikmah ialah amalan yang dihayati dan dijiwai, yang mempunyai roh dan rasa-rasa. Tanpa kedua-dua perkara ini iaitu istiqamah dan hikmah, tariqat tidak akan dapat melonjak ke peringkat hakikat dan seterusnya ke peringkat makrifat.

Itu sebabnya ramai orang yang berjaya sampai ke peringkat tariqat iaitu boleh berilmu dan beramal tetapi tersekat di situ sampai ke tua tanpa dapat meningkat ke peringkat hakikat. Sudah beramal selama 50 hingga 60 tahun tetapi tidak juga lahir akhlak dan tidak juga dapat mencapai maqam-maqam mahmudah. Dalam ertikata yang lain, mereka sudah beribadah berpuluh-puluh tahun tetapi ibadah mereka belum menghasilkan buah ia itu akhlak.

Senin, 27 Juni 2011

Sifat-sifat Allah SWT

Sesungguhnya sifat-sifat Allah yang mulia tidak terbatas/terhingga. Di antaranya juga tercantum dalam Asma'ul Husna. Sebagian ulama merumuskan 20 Sifat Allah yang wajib dipahami dan diimani oleh ummat Islam di antaranya:
1. Wujud (Ada). Mustahil Allah itu tidak ada (adam)

2. Qidam (Terdahulu) Allah itu Qidam (Terdahulu). Mustahil Allah itu Huduts (Baru). “Dialah Yang Awal …” [Al Hadiid:3]

3. Baqo’ kekal, Allah itu Baqo’ kekal, Tidak mungkin Allah itu Fana’ (Binasa). 

Allah sebagai Tuhan Semesta Alam itu hidup terus menerus. Kekal, abadi. mengurus makhluk ciptaannya. Jika Tuhan itu Fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaannya seperti manusia? “Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati…” [Al Furqon 58]

4. Mukhollafatuhu lil hawaadits (dak Serupa dengan MakhlukNya) Allah itu berbeda dengan makhlukNya (Mukhollafatuhu lil hawaadits). Mustahil Allah itu sama dengan makhlukNya (Mumaatsalaatuhu lil Hawaadits). Kalau sama dengan makhluknya misalnya sama lemahnya dengan manusia, niscaya “Tuhan” itu bisa mati dikeroyok oleh manusia. Mustahil jika “Tuhan” itu dilahirkan, menyusui, buang air, tidur, dan sebagainya. Itu adalah manusia. Bukan Tuhan! Allah itu Maha Besar. Maha Kuasa. Maha Perkasa. Maha Hebat. Dan segala Maha-maha yang bagus lainnya. “…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…” [Asy Syuura:11]

5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya) Allah itu Qiyamuhi Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya). Mustahil Allah itu Iftiqoorullah (Berhajat/butuh) pada makhluknya. “.. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Al ‘Ankabuut:6]

6. Wahdaaniyah (Esa)
Allah itu Wahdaaniyah (Esa/Satu). Mustahil Allah itu banyak (Ta’addud) seperti 2, 3, 4, dan seterusnya.
Allah itu Maha Kuasa. Jika ada sekutuNya, maka Dia bukan yang Maha Kuasa lagi. Jika satu Tuhan Maha Pencipta, maka Tuhan yang lain kekuasaannya terbatas karena bukan Maha Pencipta.
”Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” [Al Mu’minuun:91]
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” [Al Ikhlas:1-4]

7. Qudrat (Kuasa)
Sifat Tuhan yang lain adalah Qudrat atau Maha Kuasa. Tidak mungkin Tuhan itu ‘Ajaz atau lemah. Jika lemah tentu bisa dikalahkan oleh manusia.
”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” [Fathiir:16-17]

8. Ilmu (Mengetahui)
Allah itu berilmu (Maha Mengetahui). Mustahil Allah itu Jahal (Bodoh). Allah Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat.
“Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59]

9. Hayaat (Hidup)
Allah itu Hayaat (Maha Hidup). Tidak mungkin Tuhan itu Maut (Mati). Jika Tuhan mati, maka bubarlah dunia ini. Tidak patut lagi dia disembah. Maha Suci Allah dari kematian/wafat.
“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup kekal Yang tidak mati…” [Al Furqaan:58]

10. Sama’ (Mendengar)
Allah bersifat Sama’ (Maha Mendengar). Mustahil Tuhan bersifat Shomam (Tuli).
Allah Maha Mendengar. Mustahil Allah tuli.
“… Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:256]

11. Bashor (Melihat)
Allah bersifat Melihat. Mustahil Allah itu ‘Amaa (Buta).
“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al Hujuraat:18]

Selasa, 31 Mei 2011

Apakah Tujuan Kehidupan Spiritual

Masyarakat modern tampaknya akan menjawab dengan penuh keraguan.
Pola Kehidupan Spiritual bahkan menjadi suatu mode dan trendi di dunia barat. Dimana banyak yang dengan mudahnya berganti-ganti kepercayaan dan keyakinan bagaikan merubah penampilan untuk mengikuti trendi dan mode yang sedang populer di masyarakat.
Bahkan banyak pula yang menjadi pemeluk aliran tertentu, agar lebih dikenal dan tampak lain dari yang lainnya. Adapula yang menggunakan aliran kepercayaan tertentu demi kepentingan pribadi, sehingga dapat mencapai suatu karir dan jabatan tertentu.
Banyak pula yang memandang kehidupan spiritual hanya sebatas puja-bhakti, membaca sutra dan mantra, melakukan mudra, persembahan dupa dan altar, upacara, pemberkatan, penyembuhan, ramalan. Semua pandangan diatas adalah benar sebagai bagian yang berhubungan dengan kehidupan spiritual, tetapi semua itu bukan maksud dan tujuan utama dari pembinaan kehidupan spiritual.
Kehidupan spiritual tidak dapat terpisahkan dari kegiatan sehari-hari. Dimana mereka yang mulai menjalankan kehidupan spiritual, pada kegiatan sehari-harinya akan mulai menyadari banyaknya pertentangan dengan kebenaran yang sesungguhnya. Dimana pada akhirnya kita menyadari bahwa segala kebahagiaan yang kita lakukan dan kita cari selama ini bukan suatu yang abadi, bahkan kehidupan kita tidak akan abadi. Inilah awal kebangkitan kehidupan spiritual dalam beragama yang sebenarnya, yaitu menyadari akan makna dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.
Para kaum intelektual telah mengetahui dan mengerti akan ketidak-abadian segalanya dan ketidak abadian kehidupannya. Sungguh sangat disayangkan bahwa mereka tidak berusaha untuk memahaminya dengan lebih mendalam. Mereka menerima kenyataan akan ketidak-abaidan kehidupannya, bagaikan menerima kenyataan bahwa matahari terbit di sebelah timur dan akan terbenam di sebelah barat.
Seharusnya mereka dapat mengembangkan lebih dalam lagi tentang kenyataan akan ketidak-abadian kehidupan. Mereka seharusnya memahami lebih dalam makna, tujuan, dan pencapaian dari kehidupannya.
Banyak pula para ahli yang tidak berpuas diri untuk menerima kenyataan bahwa matahari hanya akan terbit dan terbenam, sehingga mereka berusaha memahami lebih dalam tentang keadaan dan sifat dari matahari. Mereka yang memahami lebih dalam, akhirnya dapat mengetahui lebih dalam lagi tentang sinar dan panas dari matahari.
Dimana mereka akhirnya dapat mengungkapkan lebih banyak kebenaran, dibandingkan mereka yang hanya menerima kenyataan bahwa matahari hanya akan terbit di timur dan terbenam di barat. Dengan terungkapnya misteri sinar dan panas secara ilmu pengetahuan, lebih banyak lagi alat-alat baru yang tercipta dan sangat bermanfaat bagi manusia.
Para master spiritual tidak berbeda dengan para ahli tersebut. Mereka tidak hanya berpuas diri untuk menerima kenyataan tentang ketidak-abadian kehidupannya, dimana mereka terus mempelajari unsur-unsur lain yang terlibat dan berperan didalam kehidupannya. Dengan mempelajari kehidupannya, mereka dapat lebih memahami jati-diri mereka yang sebenarnya. Dengan mempelajari jati-diri yang sebenarnya, maka pintu kehidupan spiritual dalam beragama telah terbuka lebar-lebar dihadapannya. Selanjutnya terserah mereka, berapa jauh mereka sanggup menjalani kehidupan spiritual mereka.

DIRI KITA.

( Spiritual )

diri kita Ia yang menganggapNya sebagai pembunuh dan ia yang menganggapNya terbunuh – kedua-duanya dungu, karena dia tak pernah membunuh, juga tidak pernah terbunuh.

Yang menghuni badan ini kekal, abadi adaNya. Pada dasarnya, Kau – aku yang menghuni badan ini tak ternodakan.
Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran.
Begitu kau sadar, kau dapat mengkoreksi dirimu.
Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadarnNya, dalam kesadaran Aku yang sejati, dalam kesadaran Ia.
Pada kesadaran Itu, seseorang tidak dapat menjadi khilaf lagi.
Ia tak membunuh, juga tak terbunuh.

Dia tidak pernah lahir, Dia tidak pernah mati pula. Penciptaan dan pemusnahan tidak terjadi dalam DiriNya. Tak terbataskan oleh kelahiran dan kematian, Kekal, Abadi, Langgeng dan Yang Selalu Ada – Dia tidak ikut musnah dengan raga.

Ibarat seseorang melepaskan pakaian lama dan memakai pakaian baru, begitu pula Dia meninggalkan badan yang lama dan memasuki badan yang baru.

Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, pada awal-mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahan terasa Nyata, dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas, apa gunanya kau bersedih hati.

Bukan hanya makhluk-makhluk hidup. Tetapi setiap keadaan – segala sesuatu dalam dunia ini, bahkan alam semesta ini – hanya terlihat Nyata untuk sesaat, pada saat pertengahan. Pada saat anda tarik napas, sadrlah bahwa udara yang tak terlihat, tak nyata, memasuki badan menjadi nyata untuk sesaat: perut anda kembung. Dan begitu Anda melepaskan napas, kembali tak nyata lagi.

Dalam sandiwara kehidupan ini, kadang-kadang sang Sutradara menyiapkan pemeran cadangan. Apabila terjadi sesuatu pada seorang pemain utama, pemeran cadangan yang sudah stand by ini baru diangkat ke atas panggung.

Jumat, 27 Mei 2011

Nikmat Tuhan.

Asalamualaikum Wr, Wb.
Bismillah.. Salam Sadar Selalu...


DI, EPISODE kali ini kita akan sedikit membahas masalah topik,
Sebuah "Nikmat Tuhan" yaitu disini terdapat Kata NIKMAT Artinya, ialah:
  • Nikmat yang bersifat Fitri ( asasi ), yakni nikmat yang dibawa manusia sejak lahir kedunia.
  • Nikmat yang mendatang ( menyusul ), yang diterima dan yang dapat dirasakan setiap waktu.
Nikmat dari Allah yang diberikan kepada manusia ketika lahir ( nikmat fitri ) dilukiskan dalam Al-Qur-an :

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ
وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu sekalian bersyukur. ( An-Nahl : 78 ) 

bukan hanya sampai disini saja..
Membahas tentang kenikmatan yang telah diberikan kepada Tuhan
Subhanalloh.... maknanya sungguh luas dan tak terhingga besar berat dan ukurannya.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 21 Mei 2011

{ siapa kita? jawabnya..... esa/satu} oleh Ziki Zi pada 01 Februari 2011 jam 22:01 *

{ siapa kita? jawabnya..... esa/satu}

oleh Ziki Zi pada 01 Februari 2011 jam 22:01


dia pernah menjadi apapun.

dia slalu berganti2 wujud

dia slalu berpindah2 tempat daerah

semua ini dilakukan oleh <1>

dan anehnya bukti yg bisa mengungkapkan.

hanya<1>bukti yaitu {"RASA"}

tidak ada <kakek,nenek> orangtua <ayah,ibu> tidak ada saudara <kakak,adik>

tidak ada teman <laki2,perempuan> tidak ada <pacar> tidak ada <suami,istri> tidak ada <orang lain> di alam ini.





!~!({<"MELAINKAN ITU SEMUA ADALAH DIRIMU SENDIRI">})!~!





*(percaya atau tidak semua itu sudah terjadi melalui proses berjalanya waktu.)*